Cerita Inspirasi 2

Nama : Sri Puji Lestari
NRP : H2410087

Terlahir dari keluarga yang bergelar sarjana pendidikan merupakan sebuah tantangan bagiku, tantangan untuk menjadi lebih baik dari kedua orang itu. Dua orang yang sangat dekat denganku itu menjadi patokan dalam menjalani hidup, pernah terfikir bahwa sulit untuk menjadi seseorang yang mendalami bidang pendidikan, tapi pemikiran itu harus ku buang jauh-jauh. Kisah Sekolah Menengah Pertamaku terukir di sebuah sekolah terfavorit dikotaku dan kebetulah salah satu guru yang mengajar disekolah tersebut adalah ibuku. Janji seorang siswi SMA kubuat bersama kedua orangtuaku yaitu berjaji untuk memperbesar rasa peduliku dalam hal pelajaran. Sulit, sulit, sulit dan hanya kata sulit yang terfikir dibenakku, namun sedikit demi sedikit rasa putus asa itu terkubur dengan rasa semangat yang membara dibenakku, semangat itu muncul saat aku mendengar kakakku adalah salah satu siswa yang mengukir prestasi di sekolahku, mulailah terfikir “tinggal serumah, hidup bersama dan segala yang dimakan sama, tapi prestasi berbeda?”, hal itulah yang sangat tidak ku inginkan, satu yang ku inginkan adalah mendengar kalimat “kami bangga memiliki kamu nak” dari kedoa orangtuaku, itulah harapanku sewaktu SMA.
Dengan semangat membara aku memilih salah satu pelajaran yang kufikir aku bisa untuk mengerjakannya yaitu kimia, kimia adalah satu pelajaran yang bisa ditaklukan oleh kakakku. Kelas X aku mencoba-coba mengikuti penyaringan olimpiade kimia tingkat sekolah dan sangat tak disangka pengumuman itu menjadi sebuah pengumuman yang sangat menggembirakan, 10 orang dari beratus-ratus orang terpilih untuk mengikuti seleksi ke tingkat selanjutnya, terseliplah namaku di daftar nama 10 orang terpilih itu, hanya ada 3 orang anak kelas X yang berhasil lolos dalam seleksi itu. Aku mulai menikmati pelatihan yang diselenggarakan oleh sekolah bersama orang-orang yang hebat bagiku, bersama salah satu dosen yang bergelar S2 dan akan melanjutkan S3 di Jepang.
Saat penyeleksian tingkat selanjutnya sebuah kabar yang tak enak untuk didengar, namaku tak tercantum dalam daftar orang-orang yang lolos ke tahap selanjutnya, sedangkan kakaku masuk ke tahap selanjutnya. Cukup mengecewakan memang, namun kekecewaan itu tak bisa kupelihara terlalu lama, bangkit adalah kata yang harus kujadikan patokan saat itu.
Aku mengikuti seleksi kembali saat kelas XI, kali ini ilmu yang aku punya bertambah dari tahun lalu saat aku duduk dikelas X. 10 besar kembali kupegang, kali ini aku benar-benar memanfaatkan kesemapatan ini. Berbagi pengalaman dengan kakaku, mengikuti les privat, belajar dengan teman dan mengikuti pelatihan adalah usaha yang kulakukan untuk memegang ke tingkat selanjutnya. Kali ini pengumuan itu menjadi kebahagian bagiku, aku lolos untuk mengikuti tahap selanjutnya. Lebih giat, lebih berusaha dengan semangat membara dan tak kenal dengan kata putus asa, kata-kata itu aku camkan dalam benakku. Sangat tek terduga olehku saat H-3 kondisi badanku melemah, demam menghinggapiku saat itu. Sore harinya aku pergi berkonsultasi dengan doketr bersama ibuku, kami mulai duduk dengan sabar menunggu giliran di ruang tunggu. Aku membuka mata dari kegelapan yang aku alami sesaat, saat aku membuka mataku sudah ada dokter yang sedang menanganiku, ternyata saat diruang tunggu badanku tergeletak pingsan, dokter mendoagnosa bahwa aku terkena stress, terlalu berat beban yang ku alami kata dokter. Akhirnya H-2 ibuku menyuruhku untuk beristirahat dan H-1 itu aku menguatkan diriku unutuk pergi ke sekolah dan mengikuti pelatihan terakhir. Kini aku bertemu dengan hari yang amat sangat ku tunggu, meminta doa restu kepada kedua orangtua tentu aku lakukan. Soal-soal mulai kukerjakan dengan tenang, namun demam itu menyerangku kembali saat setengah soal dari PG dan setengah dari esay kuisi, hanya meletakan kepala dimeja yang bisa kulakukan berharap ini hanyalah sebuah mimpi, ternyata mamahku menunggu didepan ruangan aku sedang berjuang, saat mamahku melihat keadaanku seperti itu mungkin karena tak tega melihatku lalu mamahku meminta ijin kepada pengawas untuk membawa aku pulang dan akhir dari cerita ini hanya peringkat 5 tingkat kabupaten yang bisa kuraih. Dari pengalaman di atas ada salah satu ciri seorang ilmuwan yaitu tidak putus asa. Terus berusaha akan menjadikan seseorang merasa ada kepuasan batin yang dirasakan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi 1

Nama : Sri Puji Lestari
NRP : H24100087

Sebuah kendaraan beroda empat melesat dengan cepat dan menabrak seorang anak yang mungil, kecepatan kilatnya telah membuat anak perempuan itu terlempar jauh, mengagetkan seorang adik yang berjalan dengannya. Tertidurlah sejenak putri mungil itu, terkapar tak berdaya, badannya tak henti mengeluarkan darah. Kini ia berada di suatu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding dan dalam ruangan tersebut terdapat banyak para perawat, dokter juga alat-alat yang sedang memperjuangkan satu nyawa yang sangat berarti. Para keluarga hanya terdiam disuatu kursi yang telah lama menahannya. Tak dapat berkutik, tak dapat tenang, tak dapat memikirkan hal lain, itulah yang sedang menggerogoti otak para keluarga dari putri mungil itu. Air mata telah dipilih para keluarga menjadi lautan tempat pengungkapan semua rasa, mengais-ngais sebuah pengharapan.
Seseorang berjas putih itu keluar dari ruangan itu dengan penuh butiran keringat, wajahnya terlihat lelah seperti membawa beban yang sangat berat dan memang benar kali ini, dokter telah menyelesaikan tugasnya, ia telah selesai menjahit kepala bocor yang dimiliki putri mungil itu dan saat itu pula dokter menjelaskan bahwa begitu parah yang dialami putri mungil itu, hanya sebuah keajaiban yang dapat menolongnya. Keluarganya terkaget mendengar betapa parahnya benturan yang dialami putri mungil itu.
Ayah dan ibu dari putri mungil itu memasuki ruangan, terlihat dipojok ruangan itu anaknya masih menutup mata. Menunggu, menunggu, menunggu dan hanyalah menunggu dengan sabar sebari melihat sosok putrinya tertidur dengan betah diranjang yang dialasi kain berwarna putih nan suci. Satu bulan tak juga sadar wahai anakku, itulah yang terucap dari hati orangtuanya. Terlintas di fikiran orang tuanya, betapa berat putrinya mempertahankan hidupnya, menahan sakitnya yang tak kunjung sembuh, tapi putrinya tetap semangat melawan kesakitan itu. Saat itu pula dokter menyarankan agar beristirahat dirumah saja, mungkin dokter sudah menyerah untuk menangani putri mungil itu, karena segala cara sudah diperjuangkan oleh dokter namun tak ada hasil yang terlihat. Setiap detik selalu terucap doa yang dari orangtuanya. Terakhir dokter berkata bahwa jika memang ada keajaiban datang bersyukurlah dan waspada, karena setelah lebih dari 30 tahun ia akan mendapat sedikit gangguan.
Karena dokter sudah mengangkat tangannya untuk menangani beban yang dialami putri mungil itu, akhirnya keluarganya memutuskan untuk menjaganya dirumah, seorang ayah yang kuat tetap mengawasi putrinya,tetap berada disampingnya menemani putri mungil yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Saat ini putri mungil itu tertidur diranjangnya, bukanlah ranjang putih nan suci yang disamping ranjangnya berdiri jarum infusan. Banyak kerabat ayahnya yang datang untuk menjenguk putrid mungil itu, “bersabarlah” kata itu yang terucap dari setiap orang yang datang menjenguk. Banyak orang yang berpendapat bahwa nyawa putri mungil itu tidaklah panjang lagi, namun sebuah pengharapan orang tua masihlah membatu, karena mereka yakin putrinya sedang berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya . 3 bulan telah berlalu tetapi masih tertidur pula putri mungil itu, namun detak jantungnya bagai menandakan ia masih berjuang mempertahankan hidupnya. Sampai pada akhirnya sebuah mata berbinar terbuka dari dari wajah yang mungil itu, ia telah bangun dari tidur panjangnya.
Harapan telah menjadi kenyataan, kini putri mungil itu dapat membuka matanya, meski pada saat itu keadaannya berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Dengan waktu yang relative singkat, setiap harinya ia mengumpulkan tenaga agar cepat bangun dari ranjangnya dan dapat melihat kedaan diluar, sampai pada suatu hari ia telah bisa bangun dari ranjangnya tetapi ia tidak dapat berjalan normal seperti anak-anak yang lain, ia tak dapat berjalan lurus, ia tak dapat berbicara dengan lantang, ada saraf otaknya yang terganggu sehingga mengakibatkan ia menjadi seperti itu. Disinilah peranan orang tua sangat dibutuhkan. Kakaknya, adiknya, teman-temannya terus memberi semangat kepada putri mungil itu. Dengan semangat membara yang ada pada diri putri mungil itu, akhirnya ia bisa kembali normal dan terus berjuang menyongsong kehidupannya setelah lama tertidur dalam kegelapan. Kini matahari telah menyinari jalannya.
Dengan semangat yang dimiliki putri mungil itu, kini ia menjadi seorang anak yang seakan-akan tak pernah medapatkan kecelakaan yang telah melukai tubuhnya. Senyumannya selalu sesungging dibibir manisnya, ia selalu siap dengan segala kejadian yang akan dihadapinya setiap hari.
Semakin hari ia menjadi semakin dewasa. SMP, SMA, dan kuliah telah ia arungi dengan penuh semangat tanpa menganggap beban. Kini ia menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, selalu melindungiku tanpa kenal lelah, selalu menemaniku tanpa habis waktunya, memberitahuku mana yang salah dan mana yang benar, menyayangiku dengan penuh kasihnya.
Tentangnya yang menjadi inspirasiku untuk menghadapi hidup dengan penuh semangat, kisahnya yang menjadi akar kehidupanku. Putri mungil yang semangat untuk tetap mempertahankan dirinya, kini menjadi ibuku.

Posted in Uncategorized | Leave a comment